Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, March 18, 2015

Mas, Aku hamil...

"Dokter, bisa kasih saya obat yang dosisnya lebih tinggi?" ucapku setelah Dokter Fatma menjelaskan hasil usg terbaruku.
"bisa, tapi efeknya membahayakan" jawab Dokter Fatma

entah sudah berapa kali aku masuk ruangan ini. berdiskusi. mencari solusi. mencari-cari penyakit apa yang sebenarnya hinggap di tubuh ini. aku, Annisa. perempuan 20 tahun dengan riwayat sakit yang ada-ada saja. aku tidak menganggap bahwa ini kutukan. aku anggap ini sebagai penggugur dosa, atau salah satu jalan pahala. walau tak jarang aku mengutuk keadaan di tengah khusnuzhon yg selalu kuupayakan.

"sudah dibicarakan tentang usul saya kemarin ke ibunya?"
"belum, Dok. tapi untuk masalah itu memang saya sudah sering komunikasikan dengan ibu. sayangnya, sepertinya belum ada sinyal yg kuat dari keluarga"
"tapi, obat terakhir yang saya kasih itu dosisnya sudah tinggi untuk takaran gadis yg belum menikah"

lama sekali aku duduk di kursi tunggu Rumah Sakit ini. antara berfikir, melamun, dan sedih kurasa tak ada bedanya. aku masih harus minum obat lagi. itu kesimpulan terakhirku.

***
lima bulan setelah hari itu aku tak kembali ke ruang periksa Dokter Fatma lagi. bukan merajuk, aku mencoba ikhtiar lagi ke dokter lain. dan entah ini sudah dokter ke berapa yang ku datangi.

"saya melihat memang ada sedikit keanehan di rahim nyonya Annisa ini, suaminya tidak ikut kah?"
"saya belum menikah, dok" 
"loh, ini susternya nulis nyonya, bukan nona. untuk pertama saya kasih obat ini (menulis salah satu nama obat), resepnya saya kasih untuk seminggu, 2 minggu lagi coba kembali lagi ya"
"baik, dok"

lagi...
aku pulang tanpa solusi, selain obat.
dan, pilunya aku nyaris putus asa di kursi tunggu Dokter Rahmi.

***
"saya mau di operasi, dok" kataku sebelum doker Fatma memulai usg di rahimku
"kenapa tiba-tiba minta operasi? saya nggak rekomen lo" kedua alis Dokter Fatma nyaris bertemu. 
"saya capek, dok. maaf kalo saya lancang, 5 bulan ini saya nggak cek up lagi karena saya mau dengar pendapat dari dokter lain. rupanya sama saja. solusinya kalau tidak operasi ya menikah"
"memang begitu, dek. usiamu baru beranjak 21. kalo operasi jujur saya nggak rekomen. kalo menikah ibumu belum kasih yes. saya juga bingung"
"tapi ndak apa-apa dokter, di operasi saja"
"nak, sudah saya bilang berapa kali kalau operasi ini rentan gagal karena posisi ini (sambil memperlihatkan gambar kelainan pada rahimku) memang tidak seperti endomet biasa"

untuk pertama kalinya aku menangis di depan dokter Fatma.

"tolonglah, dok. saya ndak punya solusi lain. saya lelah, dok"
"sabar, nak. saya tahu kamu pasti bimbang, tapi, lihat jilbab yang kau kenakan. kau taat pada Allah kan? yakin bahwa semua permulaan ada pengakhiran, kan? mungkin kita kurang dekat dengan Dia. coba dekati yang kasih penyakit ini"

akhirnya, aku pulang dengan sebuah solusi baru. buru-buru aku pulang ke kostan. resep yang dilampiran Dokter Fatma pun tak ku pedulikan lagi. 

***
"Assalaamu'alaikum, selamat siang, dok..." salamku ketika masuk ruang periksa yang entah sudah berapa bulan tak ku kunjungi lagi
"wa'alaikumussalam, maa sya Allah, annisa... apa kabar, nak? hampir setahun nggak periksa lagi, gimana sakitnya?" tampak raut wajah terkejut dari dokter Fatma, dokter yang menjadi partner ikhtiarku 3 tahun terakhir
"alhamdulillah, baik dok. sakitnya sudah saya abaikan, setelah periksa terakhir waktu itu, saya selalu ingat nasihat dokter. saya pikir mungkin benar, saya kurang dekat, masih banyak dosa yang belum saya minta ampunkan. makanya saya lebih memperbaiki diri, dok. karena saya pikir sudah cukup ikhtiar beberapa tahun tapi tak kunjung sembuh juga"
"baguslah kalau begitu, saya turut senang mendengarnya. ngomong-ngomong ini keluhannya apa? masih sama?"
"iya dok, sudah hampir 2 bulan ini rahim saya mulai sakit lagi. menstruasinya jg ndak ancar dok, cuma flek, dan nggak sampai seminggu"
"coba kita lihat ya" 

kembali... aku bertemu dengan seperangkat usg ini lagi. 

"Annisa..."
"iya, dok"
"kenap rahimnya berubah ya"
"berubah gimana, dok?" 
"terakhir hasil usg nya ndak begini. endomet nya nggak kelihatan, tapi..."
"tapi, kenapa dok?"
"ada tanda-tanda kamu hamil. memangnya kamu sudah menikah?"
"serius dokter? endometnya hilang?"
"iya, coba lihat, kemarin ada di daerah sini (sambil menunjuk salah satu sisi dinding rahim). sekarang nggak ada. sama sekali nggak ada. tapi kamu belum jawab pertanyaan dokter, kamu sudah menikah?"
"alhamdulillah, dok. lima bulan setelah pemeriksaan terakhir ada seorang laki-laki yang melamar daya, dok"
"barokallahu.. berarti benar, kamu hamil, nak. alhamdulillah, usia kehamilannya masuk minggu keempat"
"tapi kenapa rahim saya sakit, dok?"
"itu wajar, penderita endomet memang sedikit ada keluhan di daerah rahim ketika hamil. tapi itu bukan masalah besar. asal jangan terlalu lelah, asupan nutrisi cukup, serat jg cukup, in sya Allah akan baik-baik saja"

***
sungguh bertubi-tubinya nikmat ini menggempurku, hingga hatiku takjub dengan caraNya mencintaiku. diri yang nyaris putus asa hingga pernah menyalahkan takdir ini justru diberi hadiah begitu indah setelah mau kembali mengingat dosa. penyakitku hilang. aku dihadiahkan suami yang in sya Allah soleh. dan, calon anak yang akan kuajarkan sabar dan syukur di dalam rahimku. 

"Mas, Aku hamil" kataku menjelang tidur


note: kisah ini fiksi ya, FIKSI. 40% kisah nyata, 60% nya khayalan belaka. hehe jangan terpanjing judul 

Wednesday, December 24, 2014

Naya

"kamu ini kenapa, nduk?" ucap ibu ditengah isakannya.

Aku diam, menyaksikan berbagai reaksi aneh dari kedua orang tuaku. Ayah menunduk diam. Ibu menangis memelukku. Ada apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang salah denganku. 

"Apa salahnya mencintai Mas Endi, Bu, Pak? dia orang baik, soleh, orang tuanya juga kaya, Bapak dan Ibu nggak akan malu punya mantu seperti dia" Aku berusaha menemukan sorot mata kedua orang tuaku. Nihil. Mereka sama sekali tak melihatku, bahkan tak menggubriskan penjelasanku. Mataku mendadak panas. Dadaku sesak. Aku menangis sejadi-jadinya. Suara jeritanku bak lolongan serigala di puncak purnama. 

"istighfar, nduk. sadar... ya Allah, Pak. Piye iki anakmu pak?" Tangisan wanita disampingku ini semakin menjadi-jadi saja. Mulutnya tak henti mengucapkan Astaghfirullahaladzim berkali-kali.
"Kapan Bapak sama Ibu bisa ngertiin Naya sih Bu, Pak? Cobalah untuk menghargai perasaan Naya. Aku ini anak Ibu. Anak Bapak. Bukan dosa besar yang perlu diminta ampunkan sama Allah. Katanya kalo mau apa-apa minta sama gusti Allah, lagi sedih, lagi capek, lagi pengen dapet jodoh minta sama gusti Allah. Lha iki opo, Bu, Pak? Gusti Allah ki ra pernah ngrungokne Naya, Bu. Ra pernah."
Kuhempaskan tas kulit hadiah ulang tahun dari Mas Didit, anak pak Lurah yang dijodohkan bapak denganku setahun yang lalu. 

Ditengah kalutnya hati aku masih mencoba tenang. Aku berusaha menahan tangis yang mulai tak terbendung oleh tanganku hingga meluber diantara sela-sela jari. Kulihat cincin perak pemberian Mas Endi sebelum ia pergi, empat tahun lalu. 

Siapa yang salah sekarang, Mas? Naya sudah berusaha menjelaskan pada mereka tapi, kenapa mereka tidak bisa mengerti kita, Mas? Kenapa? Bukankah cinta bukan berkaitan dengan wujud manusia? Aku bisa lihat kamu, kamu bisa selalu disampingku, yang mau menikah kan kita, kenapa mereka ndak mau ngerti sih, Mas. Hatiku mulai sesak, Mas. 

Tangisku pecah. Kuhempaskan wajahku ke bantal. Aku menjerit sejadi-jadinya. Kurasakan tangan Mas Endi perlahan menggapaiku, menyapu rambutku dengan tangannya, berusaha menenangkanku sebisanya.

Kita akan menikah bulan depan, apapun yang terjadi.  

Kata terakhir itu selalu terngiang di benakku sebelum akhirnya lelaki yang kucintai itu keluar kamar dan pamit pulang. Aku merasa Mas Endi sangat nyata. Bagaimanapun kondisinya selalu saja dia bisa membuatku tenang, memaafkan setiap hujatan yang diutarakan kepadaku. Mengabaikan predikat gila yang disematkan teman-teman kantorku karena sering bicara dengan Mas Endi di ruanganku. Aku heran saja, kemampuan teleportasi yang dimiliki Mas Endi justru dinilai rendah oleh semua orang.

Menjelang maghrib, kubuka pintu kamarku. Aku tidak menemukan Bapak dan Ibu di ruangan manapun. Kupanggil-panggil mereka tak satupun yang menjawab panggilanku. Mungkin sudah pergi ke Langgar, pikirku.

***
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti tidak pernah terjadi apapun antara aku dan orang tuaku. Mereka mulai menerima kondisiku, Mas Endi, dan rencana pernikahan kami tiga minggu yang akan datang. Aku cukup lega karena Mas Endi sering datang ketika malam menjelang tidur, menceritakan perjalanannya hari itu hingga aku terlelap. Esok paginya, Ibu akan rutin menanyaiku "bagaimana perjalanan Endi kemarin". Dengan senang hati aku menceritakannya secara runut, persis seperti yang Mas Endi ceritakan padaku. Kadang kutambah dengan sedikit banyolan yang membuat Ibu tersenyum. 

Sampai suatu ketika, sahabatku, Anisa datang ke rumah membawa kain jarik oleh-oleh dari Pekalongan. Ia bercerita tentang hari-harinya selama 10 tahun nyantri di Solo. 

"Jadi, 10 tahun nyantri hasilnya dua keponakan cantik toh? La suamimu mana? nggak diajak pulang?" Kutanyakan itu dengan candaan dan muka menggoda, seperti yang dulu sering kami lakukan ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Umum. 

Tiba-tiba aku merasa ada yang memanggil dari dalam kamar. Segera kutinggalkan Anisa tanpa permisi. Kulangkahkan kaki sedikit cepat ke arah kamar. Benar saja, Mas Endi datang menemuiku. Kusambut ia dengan wajah sumringah sampai lupa menutup pintu rapat-rapat. 

"Maaf ya, Mas. Di luar lagi ada temenku silaturahim. Kamu dari tadi, ya?" tanyaku sembari mengajaknya duduk diatas kasur. 
"Nggak kok, baru saja sampai. Mas cuma ingin memastikan bahwa calon istri mas ini baik-baik saja" di usapnya kepalaku seperti yang sering ia lakukan. disapunya permukaan wajahku hingga dagu. "Aku, pergi dulu ya. Kasihan itu temennya sendirian" belum juga selesai Mas Endi mengucapkan salam perpisahan, Aan membuka pintu kamarku.

"Nay? Kamu ngomong sama siapa?" Aan nampak celingukan mencari seseorang lain di kamarku. 
"Calon suamiku, An. Dia baru pulang, tapi, sudah pergi lagi kok" Aku berusaha menjalaskan seolah Aan tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kulihat raut wajah Aan tidak berubah, berbeda dengan Ibu ketika pertama kali kuceritakan tentang Mas Endi.
"oh, Jadi ini Mas Endi yang pernah diceritakan Bulek" 
"Loh, Ibu sudah cerita ke kamu, toh. Kok ya ndak bilang-bilang sama aku kalo kontekan sama kamu" 
"Karena Ibumu lah aku pulang, Nay. Ada hal yang perlu aku sampaikan sama kamu. Katanya kamu mau menikah kan pertengahan bulan depan?" wajahnya mendadak sumringah sekali menanyakan pernikahanku.
"Iya, In sya Allah, An" 

Panjang lebar Aan memberikan nasihat pernikahan padaku. Sebagai seorang sahabat dia merasa bertanggung jawab menyampaikan pernak pernik pernikahan yang ia tahu. Maklum, sahabatku ini sudah 5 tahun berumah tangga dan menurut pengakuannya belum pernah bertengkar dengan suaminya.

"Tapi, Nay, kalau aku boleh tanya, apa kamu yakin akan menikah dengan Endi?" Digenggamnya tangan kananku. Erat sekali. Seolah aku akan jatuh jika dilepaskan tangannya dari tanganku.
"Yakin, lah, An. 5 tahun aku pacaran sama Mas Endi masa iya aku masih ndak yakin. Atau kamu juga berfikir bahwa aku gila?" kusampaikan itu dengan nada meninggi. Entah kenapa dadaku terasa sesak setiap kali membicarakan ketidak percayaan orang-orang dengan keberadaan Mas Endi.

"Demi Allah, nggak, Nay. Aku sama sekali ndak menganggap kamu gila. Cinta itu fitrah dan wajar kalau kamu mencintai Endi. Allah yang bilang dalam Q.S Adz Zaariyat ayat 49 bahwa setiap kita diciptakan berpasang-pasang di bumi ini supaya kita mengingat kebesaran Allah. Dan aku percaya bahwa kamu kelak akan menikah dengan orang yang kamu cintai, dengan pasanganmu, tidak terkecuali Endi. Tapi, Nay, Endi sudah meninggal 3 tahun lalu. Dan sesuatu yang ghaib itu bukan segolongan kita seperti yang dimaksudkan di ayat tadi. Tolong mengertilah, Nay"

Aku diam, sementara Aan mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan nasihatnya. Q.S Fatiir menghantarkanku pada sebuah angan panjang.

"Dan Allah menciptakan kamu dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan. Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan sepengetahuanNya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan telah ditetapkan dalam kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Terjemahan Fatiir ayat 11"

"Inayah Abdullah... Kamu percaya dengan Allah, kan? Yang telah meninggal, ruhnya tidak akan mungkin mendatangi kita dan menyampaikan salam seperti yang sering kamu ceritakan sama Bulek setiap pagi, Nay. Al-Quran itu sungguh perkataan dari Allah, Rabb kita, tidak ada keraguan di dalamnya, dan apakah kita manusia ini mau meragukannya sedang kita hanya berasal dari air mani yang hina? Sebegitu tinggikah kita memposisikan diri sehingga ndak percaya lagi sama Allah?"

"Aku tahu perasaanmu, Nay. Kita berteman dari sebelum kamu kenal Endi. Kamu tahu aku sangat setuju dengan kalian berdua, tapi, sekarang keadaannya tidak sama lagi, Nay. Tidak akan pernah sama. Mengertilah bahwa yang ruhnya sudah terlepas dari jasadnya tidak akan bisa menambah umurnya untuk tinggal di bumi ini lebih lama lagi."

Perlahan air mataku membentuk butiran bening di tepian mata, mengais tiap mili kulit wajahku. Aku menangis. Hatiku menjerit-jerit bak setan kepanasan. Kutundukkan kepalaku serendah mungkin. Kubungkam perasaan sakitku. Kuredam gejolak yang dulu timbul setiap kali bersitegang dengan kedua orang tuaku.

"Jadi, Siapa yang selalu datang di setiap malamku, An? siapa yang menceritakan kisah perjalanannya? Siapa yang tiba-tiba datang dan pergi? Siapa yang akan menikahiku bulan depan, An? Siapa?" Lagi, tangis kehilangan ku jatuhkan seperti ketika kuketahui bahwa Endi  Raharjo, kekasihku meninggal dalam perjalanan ke rumahku. Aku mencoba mencari kesadaran yang sempat singgah barang sedetik dua detik.

"Allaah... Nay, bisa jadi itu Jin atau tokoh fiksi yang kamu ciptakan sendiri, atau sekumpulan rindumu pada Endi yang menciptakan bayangan yang seolah sempurna itu" Diambilnya kain panjang yang sedari tadi dikenakannya di pundaknya, dipasangkan di kepalaku dengan berucap basmallah.

"Kita manusia harusnya imun pada Iman yang selalu kita gaungkan, Nay. Kita mengaku Islam, kita sholat, kita puasa, tapi, adakah Allah mengisi hati kita? adakah Allah menyentuh relung rindu kita hingga mampu diisi oleh syaiton? atau Allah sudah berganti posisi dengan tokoh fiksi yang kita ciptakan sendiri? Mulai sekarang, berjilbablah agar Allah dekat dengan hatimu" kepeluk erat wanita yang selesai memasangkan kain kerudung di kepalaku. Kupekikkan kata "Allah" berulang kali hingga air mata tak sedikitpun meninggalkan wajahku tanpa disapunya. 

"Tapi, An, Aku sungguh mencintai Mas Endi" kugenggam tangannya erat-erat seperti yang dilakukannya sedari tadi. 

"Kalau kalian berjodoh, akan selalu ada cara untuk kalian bersama. Tidak bertemu di dunia, In sya Allah di akhirat. Asal kamu yakin, Allah itu Maha Dekat dengan setiap hati hambaNya" 


***
Ini merupakan Fiksi lanjutan dari kisah dari sahabat saya, Deby Theresia. Selamat menari dengan ribuan dandelion kata di blognya... 

Monday, December 1, 2014

Turn Left Turn Right

Bismillahirrahmanirrahim...

love at the first sight
"benar bahwa jodoh itu tak muluk-muluk. mungkin dia yang saat ini berseberangan bangku di halte denganmu..."

kadang kita berpikir sangat jauh tentang definisi cinta, destiny, fate, jodoh, dan lain sebagainya. coba lihat film ini. love at the first sight. dua orang manusia yang sejak kecil saling mengagumi, pernah bertemu, tapi saling malu untuk bilang. sampai akhirnya 13 tahun kemudian mereka bertemu tanpa sengaja. ya, inilah takdir. mereka tak pernah tahu siapa nama orang yang sedang dikaguminya.

benar-benar takdir...

pertemuan mereka bahkan lebih sederhana dari yang aku bayangkan. di jembatan yang sama tapi beda koordinat saja. benar-benar dekat.

mungkin jodoh kita juga sekarang ada di sekitar kita. sedang di ruangan yang sama, atau di kursi yang sama, atau di antrian lampu merah yang sama, atau di sekolah yang sama, atau di kereta yang sama, atau di bus yang sama, atau, ah, sudahlah. terlalu banyak atau.

ah, aku bingung mendeskripsikan jalan cerita film ini. yang pasti... sangat sederhana sekali. sama sekali nggak muluk-muluk tapi bakal bikin yang nonton geregetan.

salam, senyum satu arah :)

Friday, November 7, 2014

No Caption

Lagi....

Ilalang itu tumbuh ditempat yang bertuan
Dengan tanah kering padahal hari hujan
Dengan rerumputan panjang tak terurus

Aku baru sampai di pelatarannya
Baru saja menginjakkan kaki lepas dari gerbang rumah ini
Na'as...
Aku menemukan spesies itu disana

Ku hela napas panjang
Ku hembuskan dengan sangat perlahan
Aku ingin merasakan damai
Walau hanya sebentar

Sebentar saja...

Sebentar saja...


Wednesday, October 22, 2014

Jika Ia Sebuah Cinta

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak mendengar...
       namun senantiasa bergetar....

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak buta..
       namun senantiasa melihat dan merasa..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak menyiksa..
       namun senantiasa menguji..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak memaksa..
       namun senantiasa berusaha..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak cantik..
       namun senantiasa menarik..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak datang dengan kata-kata..
       namun senantiasa menghampiri dengan
       hati..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak terucap dengan kata..
       namun senantiasa hadir dengan sinar
       mata..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak hanya berjanji..
       namun senantiasa mencoba
       memenangi..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia mungkin tidak suci..
       namun senantiasa tulus..

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak hadir karena permintaan..
       namun hadir karena ketentuan...

       jika ia sebuah cinta.....
       ia tidak hadir dengan kekayaan dan
       kebendaan...
       namun hadir karena pengorbanan dan
       kesetiaan...



note: ini puisi bukan buatanku yaa.. tapi gak tau jg karya siapa. jadi, kalo ada yg merasa memiliki puisi ini, saya izin re-blog. makasih :)

Tuesday, August 19, 2014

Mengagumimu Dari Jauh



“Apa perlu kubuat dunia ini terbalik agar kau sama sekali tidak melihat mereka yang membuat matamu menatapnya lebih lama?” – Abang

Sejujurnya aku cemburu,
pada orang-orang yang mampu membuatmu begitu antusias hingga bersorak-sorai menyambut kedatangannya meski ia hanyalah seorang bayi.

Sejujurnya aku cemburu,
dengan mereka yang bisa membuatmu nyaman diperaduan pundaknya. Meski ia adalah sahabatmu.

Sejujurnya aku cemburu,
dengan mereka yang tidak bosan dengan celotehmu yang tak ada habisnya meski sebenarnya memang kau begitu menggemaskan. 

Bahkan, aku cemburu pada setiap dosen atau pemateri yang mampu membuat matamu diam tak bergeming, membius mulutmu, bahkan membuatmu berani bicara dengan lantang. Kenapa tidak bisa melakukan itu juga padaku? Padahal aku cukup cakap berbicara ketika menjadi pemateri di seminar kemahasiswaan. Apa aku tidak cukup menarik?

Tapi, jujur, dari lubuk hatiku terdalam ada sedikit ganjalan yang sulit untuk aku bilang. Kau seperti kantong rahim yang begitu spesial. Tapi, entah mengapa kadang para Ibu mengeluhkan sakitmu ketika mereka mengandung dzuriatnya.

Bagiku begitu.
kau sangat istimewa, tapi, sering aku merasa sebal dengan suaramu yang berisik, dengan tingkah polahmu yang ada-ada saja, dengan guyonmu yang licik, dengan tawa lebarmu yang begitu menyebalkan. Kau tahu, cubitanmu di lenganku itu sangat sakit. Gigitanmu sangat pedih di pundakku walaupun alasanmu karena kau begitu gemas denganku.

Sebenarnya kamu itu sangat menyebalkan,
tapi...
tetap saja, aku rindu segala kecerobohanmu.

Aku tetap ingin menjadi orang yang bisa membuatmu bisa mempercayakan rahasiamu atau sekedar cerita-cerita konyol yang kau temui didalam Transmusi, atau, menjadi pundak yang nyaman untukmu bersandar dan tidur di bus kampus. Jujur, keinginan itu kadang membuat dadaku sesak manakala aku hanya sanggup menatapmu dari bangku di belakangmu, mendengar gelak tawamu dengan teman sebelahmu, memandangimu dari jauh ketika kau tidur lelap di dalam bus. Kamu tahu, aku kadang ingin sekali memasangkan masker agar tak ada debu yang masuk ke saluran pernafasanmu, atau, kipas yang mendinginkanmu ketika dijalan.

Ay, walau tak ada satu orangpun yang tahu, kamu ingat, ketika kita tidak sengaja kita duduk dibangku yang sama, dadaku begitu bergemuruh, jantungku serasa mau copot, dan bahagianya aku karena tak lama setelah Bus jalan kau tertidur. Kau sadar tidak, wajahmu sangat ayu, bahkan ketika tidur. Bibirmu yang tipis itu akhirnya bisa kulihat diam dan aku suka itu.

Ya...

Aku begitu suka memandangimu ketika tidur. Entah sadar atau tidak, aku pernah menyimpan potretmu ketika kau tidur. Tapi, maaf, tak bisa kumuat di sini.

Ay, walau aku tau panggilan "Abang"mu untukku hanya sekedar penghormatanmu karena usiaku yang lebih tua darimu. Tapi, bagiku itu lebih dari bahagianya mendaki gunung atau menikmati sunset di Tepi Pantai. Andai itu panggilan yang kau tujukan untuk orang yang spesial bagimu, Ay.

Semoga kau tidak dan tak akan pernah tau bahwa di Bus itu ada aku yang menjagamu dari kejauhan. Semoga kau tidak tahu ada potretmu di Handphoneku. Sampai saatnya benar-benar tiba. Kalaupun tidak, aku cukup bahagia bisa mengagumimu dari jauh.

Sincerely, Rayhan "Abang" Mahendra.

Friday, August 8, 2014

Kekasih Terakhir (?)

"pesan masuk"
dahiku mengkerut. kedua alisku bertemu. untuk pertama kalinya aku heran ada pesan masuk pukul 23.55. se malam ini siapa yg kirim pesan? tanya dalam hatiku. kubuka kunci layar handphone putih yang akhir-akhir ini mulai sering masuk "rumah sakit" karena meriang.
nomor baru? siapa?

"malam ini begitu dingin. sampai-sampai ingatanku ikut menciut pada kenangan2 ketika denganmu. bidadari yang tertinggal di bumi. maaf, bukan betmaksud membangunkanmu selarut ini demi pesan tidak penting ini. aku hanya ingin minta maaf karena sempat menjadi harapan yang pupus bagimu. maaf karena aku lancang masuk rumahmu sebelum kau izinkan, dan pergi sebelum kau izinkan pula. aku bukan ingin mengajakmu kembali, aku hanya ingin mengucapkan maaf dan terimakasih karena telah menjadi kekasih terakhirku. biarlah aku tebus semuanya sendiri. selamat tidur bidadari kecil"

aku menarik napas panjang. kubentangkan selimutku dan bersiap tidur. na'as... pesan tadi membuat mataku enggan tertutup. sepertinya ada proyektor di otakku yang memmuat film dokumenter ketika aku denganya. bercanda. menangis. berharap. membetulkan tekukan lengan kemejanya. membawakan sarapan. membuatkannya kopi. memilih rumah impian. marah. hampir semuanya menabrak  katup mataku hingga enggan tertutup.
wajahnya... senyumnya... padahal nyaris setahun kami tidak saling berkomunikasi, tidak secara langsung dan melalui pesan online. bahkan aku telah menghapus semua hal yang berhubungan dengannya. nomor telpon, email, sosmed, foto, apapun tentangnya sudah tidak ada disekitarku. kecuali perasaan ini.
ingatan membawaku terbang ke waktu yang begitu pelik. ketika terakhir kami saling berkirim pesan dan saling mengucapkan selamat tinggal.

"aku telah melakukan kesalahan besar. izinkan aku bersujud dikakimu. semoga hatimu cukup luas untuk memaafkan segala khilaf yang setahun ini aku lakukan. bukan kamu yang salah. kamu bukan kesalahan seperti yang sering kamu bilang. kamu terlalu baik untuk dijadikan sepotong kue kuning di meja kerjaku"

pesan itu... rasa sakitnya kembali terasa. kenapa harus hadir lagi di hidupku setelah aku hampir bisa menyembuhkan rasa sakitnya. kenapa?

"terimakasih..."

hanya itu yang sanggup aku ucapkan.

umurku 23 tahun. aku sudah meninggalkan tempat dimana aku dan dia dipertemukan untuk pertama dan terakhir kalinya. kuputuskan malam ini aku tidak tidur saja. kalaupun tidur, aku yakin akan bermimpi tentangnya atau malah membuat kenangan baru di dalan mimpiku. kuseduh segelas kopi hitam sedikit gula. kakiku melangkah ke beranda belakang rumah. sepasang buku dan pena kuletakkan diatas meja didekatku.

7 Agustus 2014
ketika malam panjang nyaris membuaiku, aku disentak oleh sebuah tanya yang menjagal kelopak mataku. "kekasih terakhir?" siapakah gerangan yang pantas dipasangkan mahkota kebanggaan itu. aku? atau orang lain. kenangan memang satu2nya pembunuh paling menyenangkan di dunia ini.
malam ini... dadaku remuk olehnya. seseorang yang tak disangka datang, tak diizinkan pergi, dan sekarang tak disangka datang lagi membawa palu besar yang menghantam dadaku, tepat didenyutan jantungku. seseorang yang tidak dapat kujelaskan. seseorang yang selalu saja menjadi deskripsi cinta ketika itu. kue kuning. kesukaanmu kan? dan aku hanya menjadi sepotong saja diatas meja kerjamu ketika itu.
kau ingat? ketika itu aku tidak siap menerima kedatanganmu. tapi kamu selalu saja datang meski telah kuusir berulang kali. kau bilang aku dipilih oleh hatimu, bukan oleh dirimu sendiri. bukan oleh matamu, juga bukan oleh kebiasaanmu.

"Ay, kamu tahu, terkadang kita memang dihadapkan dengan kenyataan bahwa kita hanya dipertemukan dengan orang yang kita cintai, yang membuat kita nyaman, tapi tidak dipersatukan ketika itu. aku tahu, saat ini keadaan kita begitu pelik, dan kamu begitu baik mengerti semuanya. aku anggap kamu adalah kado spesial dari Tuhan. terimakasih ya" katamu waktu itu. ketika kita dalam perjalanan pulang.

"dan kamu juga harus tahu, bahwa aku tidak pernah mengizinkan laki2 sepertimu hadir di hidupku sejauh ini. tapi, denganmu semua harapanku terasa begitu dekat. aku harap kamu bisa menghargai itu"

aku tidak sanggup melanjutkan tulisan ini. kuputuskan untuk menutup lagi buku ini dan menyimpannya kembali kembali di dalam laci seperti semula.

Tuhan.... bagaimana mungkin setelah setahun berlalu, rasa sakitnya masih saja terasa. bahkan setelah dia kembali dengan ucapan maafnya. bagaimanapun, aku tidak benar2 sadar bahwa selama ini luka itu belum kering sepenuhnya.

"kini... kubiarkan sisa kenangan ini terbang bersama debu jalanan. terserah dimana ia mau singgah"

Saturday, July 19, 2014

My Destiny

Assalaamu'alaikum wr wb

Mungkin dari kemarin2 ada beberapa dri temen2 yang bertanya-tanya, kenapa status di medsos saya isinya My Destiny semua. Bukan berarti saya sedang jatuh cinta, sama sekali bukan. Bukan juga karena inget masa lalu. Ada satu lagu dari salah satu drama korea (akhirnya saya nonton drama korea juga setelah sebelumnya paling ogah nonton k-drama atau sejenisnya) yang bikin saya nangis. Kenapa nangis? Liriknya sedih banget dan penyanyinya sukses bikin lagu ini.berasa nancep-nancep di hati saya. Dan lagi, tema lagunya ttg Rindu yg bikin saya oh, MY Allah... Ada yg bisa menyampaikan rasa kehilangan secantik ini. Dan lebih menariknya lagi, bagian paling penting dari teks lagu ini diulang berkali-kali dengan cara yg menyentuh.

saya mau kasih lirik lagu plus terjemahan english dan indonesia. Ini saya copas dari salah 1 blog yg saya lupa nama blognya apa. Jd, jika ada dr pembaca yg merasa tulisan/lirik lagu ini ada di blognya, saya mohon maaf karena tidak izin terlebih dahulu.

Kalo perlu dibaca sambil dengerin lagunya. Bakalan lebih berasa... Enjoy... :)

-Korea-
na dashi heoraghan damyeon
geudael dashi bol su itdamyeon
nae jinan gieog sogeseo
geu apeum sogeseo
geudael bulleo
You`re my destiny geudaen
You`re my destiny geudaen
You`re my everything
geudae man bomyeonseo
ireohge sori eobshi bulleo bobnida
You`re the one my love geudaen
You`re the one my love geudaen
You`re my delight of all
geudaeneun yeongwonhan
naui sarang ijyo
nae gyeote dagawa jwoyo
nal ajig saranghan damyeon
du nune goin nunmuri
geudaereul wonhajyo
saranghaeyo
You`re my destiny geudaen
You`re my destiny geudaen
You`re my everything
byeonhaji anhneun geon
geudaereul hyanghan
naui sarang ibnida
You`re the one my love geudaen
You`re the one my love geudaen
You`re my delight of all
sesangi byeonhaedo
geudae man sarang haneun nareul anayo
nae unmyeong
geudaereul bulleo bobnida.
 
-English-
If I’m allowed once again
If I could see you again
Inside my past memories
Inside that pain
I call you
You’re my destiny, you are
You’re my destiny, you are
You’re my everything
I only look at you as
I call out to you silently
You’re the one my love, you are
You’re the one my love, you are
You’re my delight of all
You are my love
forever
Come to my side
If you still love me
The tears in my eyes
want you
I love you
You’re my destiny, you are
You’re my destiny, you are
You’re my everything
The thing that
hasn’t changed
is my love for you
You’re the one my love, you are
You’re the one my love, you are
You’re my delight of all
Even if the world changes, do you
know that I will only love you?
My destiny
I call out to you
 
-Indonesia-
Jika aku diizinkan sekali lagi 
Jika aku bisa bertemu lagi 
Di dalam kenangan masa laluku 
Di dalam rasa sakit itu
Aku memanggilmu
Kau takdirku, Kau
Kau takdirku, Kau
Kau adalah segalanya bagiku 
Aku hanya melihatmu
Aku memanggilmu secara diam-diam
Kaulah cintaku, Kau
Kaulah cintaku, Kau 
Kau adalah semua kegembiraanku
Kau adalah cintaku
selama-lamanya
Datanglah ke sisiku 
Jika kau masih mencintaiku 
Air mata di mataku 
menginginkanmu
Aku mencintaimu
Kau takdirku, Kau
Kau takdirku, Kau
Kau adalah segalanya bagiku 
Hal itu
tidak berubah 
adalah cintaku padamu
Kaulah cintaku, Kau
Kaulah cintaku, Kau
Kau adalah semua kegembiraanku
Bahkan jika dunia berubah, apakah kau
tahu bahwa aku hanya akan mencintaimu?
takdirku
Aku memanggilmu
 
credit; popgasa, kromanized, choiraekyo-wp.

Sunday, July 6, 2014

Dandelion itu pasti pulang



Bismillahirrahmanirrahim...
Rasanya aku begitu memaksakan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Seperti menganggapnya sebagai takdir hidupku padahal aku sama sekali tidak tahu jalan seperti apa yang akan aku hadapi nanti. 

Sekarang, aku sadar bahwa kelopak dandelion tetap harus pulang ke tanah, pemiliknya yang haqiqi. Sekalipun ia tumbuh dalam tangkai yang begitu kokoh. Sekalipun bagiku, ia adalah hak yang patut aku pertahankan. Apalah dayaku, jika segala ini telah dituliskanNya. Aku hanya sebatang kayu. Ya... aku harus ikhlas. 

Cukup. Aku sudah memilikinya dalam diriku. Sempat memilikinya lebih tepatnya. Sayangnya aku tidak belajar melepaskan. Aku hanya tahu bagaimana cara memeluknya erat-erat. Aku mengabaikan segala aspek yang seharusnya aku pelajari. Aku menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Otakku terlalu keras untuk menerimanya.

Dia....

Seseorang itu memang masih ingat, masih ingin bersama. Aku tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya, apa yang tengah difikirkannya. Keputusanku membiarkan segala hal berjalan semaunya sepertinya memang tepat. Duniaku begitu sempit sehingga rasanya sangat sulit bergerak kearah lain tanpa suaranya.

Harapan itu masih ada...

Setidaknya aku yakin bahwa setiap nyawa pasti akan pulang ke peraduannya. Setiap kelopak akan jatuh ke tanah. Setiap kapal akan bersandar di dermaga. Apa yang saat ini ku anggap tidak ada, bukan berarti benar-benar tidak akan pernah ada. Siapa yang saat ini tidak hadir mungkin belum datang saja. Atau tengah beristirahat di gubuk tepi jalan. Atau, bisa jadi yang saat ini aku jaga adalah memang dia yang ditakdirkan menjadi masa depanku. Aku hanya berusaha khuznuzhan. Aku tidak tahu apapun kecuali keyakinan ini.

Panggung pertunjukan telah usai. Dan sekarang, aku tengah menyaksikan tanganku bergemerincing di atas pentas bersama selendang merah yang menawan. Sendiri.

Aku tidak berharap apapun kecuali padang ini kelak akan ditumbuhi ribuan dandelion lagi... 

Sunday, May 18, 2014

Althafunnisa ~

bismillahirrahmanirrahim

Aku adalah hujan. yang ketika kemarau begitu dirindukan.yang ketika penghujan sangat dibenci orang. akupun dandelion. yang ketika disuka maka akan dipuja bak putri kerajaan. yang ketika tidak disuka, akan dibabat habis oleh yang punya...

Althafunnisa namanya, gadis 23 tahun yang menjadi bisu ketika ditanya "bagaimana mungkin seorang sepertimu bisa memilih hidup seperti ini?" dan begitu ceria ketika membicarakan padang dandelion lengkap dengan filosofi dan kisah-kisah romantis didalamnya. gadis ini adalah sahabatku. wanita yang begitu aku cintai setara dengan ibu dan keluargaku. wanita yang asalnya-pun dia tak pernah menceritakan. katanya, masa lalu yang tidak baik itu sudah ditutup Allah, dan setiap aib di dlaamnya telah dikunci rapat. kenapa harus kubuka? 

perempuan yang darinya aku belajar tentang definisi lain dari mencintai. memberikan tanpa meminta sedikitpun. orang mana yang bisa melakukan hal bodoh sesempurna itu selain dia? nyaris tidak ada. kesimpulannya adalah, aku dibuat bingung. entah harus menggolongkan dia kedalam barisan perempuan-perempuan hebat atau tolol. yang pasti, aku suka setiap filosofi dandelion yang keluar dari lisan indahnya. 

dia tidak pernah membuat dirinya begitu istimewa, justru aku yang memaksa dia untuk membuat dirinya tampak lebih "mahal" dihadapan orang lain. baginya, jika memberi saja suduh cukup kenapa harus meminta? orang yang meminta itu tandanya merasa ada sesuatu yang kurang pada dirinya sehingga dia meminta hal itu dari orang lain. dan ketika kutanya, kenapa dia tidak meminta, apakah karena dia tidak butuh? dan jawabnya membuatku begitu tetegun malu.
"bahagiaku adalah ketika kau bisa melakukan apapun untuk orang lain secara sempurna, bukan meminta hal yang membuat hidupku seperti disempurnkan"

masyaAllah... dibuat dari apa hati wanita ini, ya Rabb...

jangan pernah mengira bahwa Ata', panggilan akrabku untuknya, tidak pernah menangis. begitu lembutnya hatinya hingga sangat sering kudengar dia menangis di sepertiga malam dengan permintaan dan ucapan maaf kepada sang Khalik atas ketidak sempurnaannya membantu saudarinya. sekali lagi yang ditangiskannya bukan tentang JODOH. melainkan saudarinya. pernah ku beranikan diri untuk bertaanya tentang keinginannya menikah.
Ata' belum mau menikah kah?
dijawabnya dengan sangat lembut dan tegas. wanita mana yang tidak ingin menyempurnakan setengah agamanya, yum. begitupun aku.
insyaAllah sebelum Ramadhan tahun ini :) jawabnya dengan senyum manis
entah apa yang harus ku ucapkan ketika itu. sampai tiba di satu pengakuan darinya tentang calon suami yang hendak menikahinya.

At: laki-laki ini soleh, cerdas, insyaAllah akhlakul karimah, tidak merokok, usianya 10 tahun dariku. dia bekerja sebagai Penulis Buku.
Ay: dari mana ata' kenal dengan beliau?
At: dia mengirimkan surat kepada umi Hanifah 2 bulan yang lalu. entah dari mana dia bisa tahu tentangku. katanya, dari seorang sahabat suaminya umi
Ay: dia tinggal dimana? keluarganya?
At: dia tinggal di kota ini juga. sebenarnya aku mengenalnya lewat tulisan-tulisannya, hanya saja aku tidak begitu tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya ketika itu
Ay: keluarganya?
At: keluarganya di Jawa, sedang keluarga kecilnya ada di sini juga
Ay: keluarga kecil? maksudnya?
At: dia dan istrinya
Ay: ta? ini serius? jangan bercanda ta'...
At: dia telah beristri 5 tahun yang lalu. istrinya menderita HIV/AIDS sejak 3 tahun lalu. jangankan mempunyai keturunan, berhubungan suami-istripun tidak diperkenankan. entah dari mana asla penyakit itu akupun tidak tahu. singkat cerita, laki-laki ini meminta izin untuk menikah lagi dan istrinya mengizinkan dengan syarat tidak menceraikan dia dan istri keduanya harus tinggal bersama mereka. setidkanya itu yang aku baca dari surat yang dilayangkan kepada umi
Ay: astaghfirullahaladzim... bagaimana mungkin seorang seperti kamu dijadikan istri kedua ta'? kamu bisa mendapat yang lebih baik dari dia. dan tinggal serumah? ya Rabbi, istri mana yang sanggup tinggap se-atap dengan madunya. berpikirlah lebih lama, ta'. jangan hanya karena kamu ingin menikah lantas kau terima lamaran untuk menjadi madu ini.
At: cuma Allah yang tahu apa maksud dibalik semua ini, Ay...
Ay: tapi kamu bisa memilih, ta..
At: memilih apa? pilihan apa yang bisa aku ambil? kita tidak pernah tahu pilihan ana yang terbaik untuk kita, Ay. aku tidak pernah bercita-cita menjadi madu. tapi lihatlah, mereka benar butuh aku. istrinya sakit dan dia tidak tahu bagaimana merawat dengan baik. sejahat itukah aku menolak perminaatn baik itu, Ay?

ya Rahman.. kejutan apa yang tengah Kau persiapkan untuk sahabatku ini...

aku hanya bisa duduk dengan tetsan air mata yang tiada habis manakala kulihat nisan ini bertuliskan nama seorang wanita yang begitu ku kenal. Nur Althafunniza binti Sabar. seorang wanita yang mungkin tidak akan pernah bisa mencintai orang-orang di sekitanya sebaik yang dia lakukan untuk kami, orang-orang yang hidup satu tanah dengannya.

Ata' meninggal di usia 25 tahun, tepat setelah adzan subuh berkumandang, ketika seorang calon Mujahid lahir dari rahimnya. dengan senyum bahagia dan lafadz Laailaahaillallah dia pergi meninggalkan kami. wajahnya ayu, senyumnya merekah. Allah, tempatkan ia disisimu yang paling baik, sebaik ia memperlakukan saudara-saudaranya.

suaminya bercerita bahwa selama kehidupan mereka, tidka sekalipun Ata' memperlakukan istri pertamanya seperti madu. diperlakukannya seperti ia sedang merawat ibu yang tengah sakit. selama kehamilanpun ata' tidak pernah absen mengurus Sofia, istri pertamanya hingga kemudian diketahui bahwa Sofia telah dinyatakan sembuh dari HIV/AIDSnya.

Ata' benar-benar malaikat yang dikirimkan Allah dalam wujud manusia ke bumi ini. dia meinggal ketika keadaan sudah baik. ketika seorang zuriat telah ia persembahkan sebagai penyempurna sepasang suami istri ini. Maha Besar Allah dengan segala CiptaanNya

"Maka Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?"

Sunday, May 11, 2014

Perasaan Indi - Sepotong Kue Kuning, Filosofi Kopi -

"apa aku bilang? dia tidak datang lagi, kan? dan kamu masih bertahan? sinting!"
"aku justru keseringan berkaca, dan betul, aku memang tidak layak. suatu kehormatan yang terlalu besar unutk bisa mencintai seperti ini"

Aku berhadapan kembali dengan perasaanku sendiri, untuk mengakui bahwa Cintaku Tidak Padam Tapi Bermutasi.

Hampir lima tahun perasaan itu tinggal dan mengendap di sepanjang nadiku, tapi aku bingung bagaimana membuatnya menjadi energi untukmu, untukku, untuk setiap hal yang kita bilang "berjuang". aku tidak tahu perasaan istimewa seperti apa yang sebenarnya kita cari. aku terlanjur belajar menerimamu sebagaimana keadaanmu kemarin, saat ini, dan bukan mencari yang tidak ada padamu. bisakah jadikan aku sepatu yang layak kau kenakan kemana saja? tanpa harus menjadi sepasang kaus kaki lagi. sungguh, aku tidak pernah marah pada takdir, aku mencintaimu untuk waktu yang lama, dan aku selalu belajar menjaganya setiap hari. bukan menghapusnya perlahan-lahan.

aku tidak tahu bagimana asalnya hingga 5 tahun membiarkan setiap harapan tumbuh dan mekar sepanjang hari. padahal kenyataan demi kenyataan seharusnya mampu membuat setiap rasa itu luntur tanpa sisa. apa yang bisa kulakukan jika setiap hari aku harus menunggu kamu yang menghubungiku, membiarkan rinduku membuncah tanpa arah, sedang jari-jariku serasa tak tahan ingin menekan tombol telpon di namamu.

sakit sekali rasanya membiarkan orang yang aku cintai tidak bahagia dengan pilihannya, padahal aku mampu, aku sanggup membuatmu bahagia denganku. tapi kenapa rasanya begitu sulit? 

malam itu kau datang, hanya saja 5 menit kemudian kau pulang. katamu dia sakit. ya, memang aku tidak pernah lebih berharga dari kaus kaki. 

ada kalanya kita punya sepasang sepatu yang sangat nyaman, hanya saja kita tidka bisa selalu memakainya di segala kondisi. dan terpaksa, sepatu itu dibiarkan lusuh di tumpukan bersama debu dan dipakai ketika kau benar-benar merindukannya.

ya, aku sadar, aku adalah tempatmu meletakkan cinta seutuhnya. hanya saja, kau tetap tidka bisa mengenakanku setiap waktu.

malam ini, aku menyeberang. aku telah mampu mencinta tanpa takut kehilangan cinta... 

Khitbah

bismillahirrahmanirrahim
*nulisnya deg-degan*

 pagi itu aku bersiap-siap untuk pergi ke sebuah pondok pesantren milik umi dan abah. katanya hari ini ada syukuran anak abah yang ke-empat, namanya Sarah. dia baru saja menyelesaikan kuliah di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. wajahnya ayu, lembut, khas wanita jawa sekali lah, agak berkebalikan denganku. hehe

singkat cerita, seusai syukuran aku disuruh umi menghantar makanan ke ruangan abah, disana sudah mulai sepi, tapi kenapa umi memintaku menghantar makanan kesini? aku fikir ya mungkin memang abah yang minta untuk dibawakan cemilan saja. benar ternyata, di ruangan itu hanya ada abah dan seorang pria yang asing bagiku. maklum, hampir 2 tahun aku mengenal keluarga abah dan umi dan baru kali ini aku melihat pria ini. aku rasa bukan salah satu kerabat jauh keluarga ini. entahlah, yang pasti aku tidak sempat memperhatikan wajahnya, yang tampak hanya bayangan beliau memakai gamis putih dan sedang berbicara entah apa dengan abah.
"assalaamu'alaikum, ini cemilannya, bah" ucapku sembari menyodorkan dua piring penuh makanan
"wa'alaikumsalaam wr wb, syukron ya, Arum" ucap abah dengan senyum manisnya

kemudian aku kembali ke ruangan sebelah menemui umi dan sarah. ada perasaan penasaran tentang siapa laki-laki itu, bukan maksud aku suka, sam asekali tidak. aku hanya ingin tahu saja siapa tahu dia adalah salah satu kemenakan umi dari jauhyang belum ku kenal.
"sarah, tadi di depan abah sedang berbicara dengan seorang lelaki, rasanya aku belum pernah melihatnya disini. itu mantan santri abah ya?" kataku sedikit berbisik
"oh, kata abah sih itu mantan santri sahabat abah di jawa timur, silaturahim mungkin ya. aku juga kurang tahu, rum" jawab sarah sembari membereskan piring makanan
aku kira sudah cukup lah sekedar tahu dia itu siapa. tidak perlu lebih. toh siapa saya sih, kepo banget.

sore itu, aku berpapasan dengan laki-laki itu lagi ketika hendak mengambil sajadah di bufet ruang tamu. aku sengaja tidak melihat dia. kemudian aku dikejutkan dengan suara salam dari seorang laki-laki dibelakangku.
"assalaamu'alaikum"
"wa'alaikumsalaam wr wb, afwan ada apa?"jawabku sedikit kaget. maklum, bawaan latah. hehe
"boleh saya tahu rumah anti dimana?" aku heran dengan orang ini, akupun tidak mengenalnya, kenapa justru yang ditanyanya adalah rumahku. aku masih diam tidak menjawab. sampai kemudian ada suara umi masuk dari ruang tengah
"jawablah, yum. kan ditanya" kata umi lembut kemudian berlalu keluar
"afwan, jika kehadiran saya mengagetkan anti" katanya sedikit tidak enak hati
"ndak apa-apa. rumah saya di blitang, tapi ngekost di dinavili, perumahan persada" jawabku sedikit gemetar. masih dalam keadaan aneh, ada apa dengan pria ini.
"anti punya saudara di palembang?" tanya nya kemudian yang membuat pertanyaan semakin banyak di kepalaku.
"ada, di pusri, tepatnya di lebak jaya lorong aman. afwan saya mau ambil wudhu dulu. assalaamu'alaikum" kemudian aku berlalu ke kamar sarah. dalam keadaan bingung aku duduk di tepian ranjangnya.
"kamu kenapa yum?" sarah menghampiriku dengan muka aneh
"laki-laki itu aneh sekali sar, masa tadi aku papasan sama dia di ruang tengah yang ditanya bukan namaku, tapi rumahku. aneh ndak menurutmu?
"hmmm... aneh sih, tapi bukannya cowok2 sekarang suka gt ya kalo ngajak kenalan?"
"tapi beliau itu mantan santri, sar. harusnya tahu lah etika berkenalan. malah tadi umi juga bilang kasih tahu saja yum, gitu" sarah diam, lalu senyum-senyum tidak jelas kemudian berlalu ke kamar mandi.

"yum, kamu di panggil umi tuh di ruang tamu" sarah muncul secara tiba-tiba
"ada apa, Sar. kok kamu buru-buru gitu?"
"nggak tahu, ayolah cepet ditunggu itu" segera kuambil bergo sarah di tepi ranjang. ku kenakan kaus kaki secepatnya lalu menysul sarah berjalan ke ruang tamu
"nah yum, sini nak" abah memanggil dengan nada sangat lembut. aku mendekat tanpa menjawab panggilannya.
abah menjelaskan perihal santri yang semalam menyapaku. namanya Fajar, asalnya dari jawa timur. alumnus Gontor. panjang lebar abah dan umi bergantian menjelaskan. ternyata sahabat abah yang merekomendasikan beliau ini untuk silaturahim kesini. umi kemudian menjelaskan bahwa Fajar ini sedang ikhtiar mencari calon istri. aku hanya menggut-manggut mengerti. masih belum ngeh maksud dibalik cerita-cerita ini.

"nak Arum, mohon maaf jika ini sedikit mendadak. jika diperkenankan, nak Fajar berniat meminang nak Arum bulan depan" 

ucap abah kali ini benar-benar membuat hatiku tidak karuan. aku belum mengenal pria ini, tapi belum pernah ku lihat keyakinan seperti yang abah tunjukkan padaku barusan. pikiranku berkecamuk entah kemana. teringat catatanku tentang menikah di umur 22 tahun. antara harus sedih atau senang. ku tahan air mataku sekuat mungkin. alangkah malunya aku menangis di depan keluarga sempurna ini.
"afwan, Abah. izinkan arum istikharah. insyaAllah dalm tiga hari ada jawaban melalui umi" ucapku pelan. suaraku nyaris bergetar. entahlah, ungkapan seperti apa yang pantas aku tunjukkan.

pagi itu aku pamit pulang ke kost. ku kabarkan permintaan ikhwan tadi kepada ibu di kampung halaman. tangisku nyaris tiada henti setiap kali mengucap Al Fatihah di rakaat pertama. sujudku tak lagi biasa. ku ucap syukur sedalam-dalamnya. betapa anugerah ini Allah limpahkan bertubi-tubi.

Assalaamu'alaikum wr wb, umi, abah, tolong sampaikan kepada Akhi Fajar untuk datang ke rumah di blitang pekan depan. InsyaAllah keluarga siap menerima niatan silaturahim dari beliau. 

bismillah, ku kirim balasan lewat pesan singkat kepada umi. kembali... istikharah panjang.

*sebenarnya aku bingung mau menuliskan mimpi tadi malam mulai dari mana karena rasanya aku sebelum tidurpun sama sekali tidak berfikir tentang ini. nggak bisa dibilang absurd juga sih, tapi ya memang gitu. sekali lagi ini hanya mimpi