Showing posts with label tentang doa. Show all posts
Showing posts with label tentang doa. Show all posts

Saturday, November 22, 2014

Kalo sudah "Kun", Kita bisa apa?

Bismillahirrahmanirrahim...

"serius?"
"memangnya kenapa?"
"baru sebulan, loh"
"kalo jodoh mau bilang apa?"

mungkin akan terasa aneh ketika seseorang memutuskan hal penting dalam hidupnya dalam satu minggu, sehari, bahkan satu jam. bagiku, tak pernah ada yang mustahil selama Allah sudah jatuhkan "kun" terhadap takdir hambaNya. karena bagiNya, tak pernah cukup waktu untuk bilang yakin, tak pernah ada waktu untuk menunggu. saat "yakin" itu tiba, kita bisa bilang apa?

ada yang butuh waktu setahun untuk merasa yakin. ada yang delapan tahun tapi tak juga yakin, yang ada malah semakin ragu karena ujiannya terlampau berat. ada pula yang sangat yakin meski hanya diberi waktu berpikir satu jam.

kenapa?

cuma Allah yang bisa membolak-balikkan hati. cuma Allah yang bisa mengaturnya sebaik-baik yang Dia mau.

ini ngomongin tentang apa sih? jodoh? menikah? milih jurusan kuliah?

apapun lah. semua hal yang menyangkut keyakinan aku rasa akan berlaku hukum yang sama. kalau tangan Allah sudah memindahkan kerikil-kerikil di jalanan, kalau sudah dihapuskan mendung diatas atap rumah kita, kalau sudah berhembus angin kencang, daun bisa apa selain gugur bersama takdir yang berganti.

tapi percayalah, sekalipun kita salah mengambil keputusan, akan ada jalan lain yang membuat kita kembali ke jalan yang baik tergantung seMAU apa kita mencari arah anginnya.

kadang pilihan membuat kita tunduk pada pilihan itu, menjadikan yang yakin semakin yakin, yang ragu menjadi abu-abu, yang tak pernah melihat menjadi percaya, yang tak terfikir menjadi yakin. ya, begitulah jika tangan takdir sudah ambil alih.

sebulan yang lalu...
mendung membuatku tak bisa melihatnya
tak bisa mencarinya dengan radarku
tak bisa menemukannya dalam mimpiku
tak yakin dengan diriku
tapi,
angin kemarau membuatku pindah tempat
naik ke puncak gunung yang tak pernah terpijak
aku menemukan lagi
langit biru tanpa kelabu
tanpa mendung menggelayuti relung-relung fikirku
tanpa ragu memberatkan kakiku

sebulan yang lalu
seseorang telah datang dalam hidupku
mempesonaku lewat KUN yang disampaikannya
dengan syair-syair Tuhan yang tak terjamah olehku
lewat jalur angin yang tak terduga oleh akalku

dia...
takdir yang datang sebulan yang lalu
yang menjadikan ragu tak ada lagi
yang membuat ragu cepat berlalu
yang membuat yakin tinggal disini
yang menetapkan kaki untuk diam menunggunya datang
yang memintaku duduk tak perlu pergi lagi

awan itu hilang
bersama takdir yang tergantikan

KUN...


Thursday, July 10, 2014

Bunga yang Kuncup akan segera Mekar, cat yang hilang akan segera Tergantikan


bismillahirrahmanirrahim...

"kita bukan pemilih yang handal,pun bukan pilihan yang akurat. jadi, jadilah wanita yang tetap indah sesuai tempatmu, berperangai baiklah, agar kelak kuncupmu mekar disaat semua orang menginginkanmu" - Anisa Ayumi-


“Aku Mengetahui sedang engkau tidak”



Memilih dan dipilih adalah kedua hal yang sangat dekat tapi tak sama. Jarang ada yang sadar bahwa menjadi pilihan dan pemilih itu sangatlah berat. Bukan hak mutlak manusia untuk menentukan pilihan. Hanya Yang Maha Adil. Hanya Dia saja.


Tapi, belakangan aku sering menemukan beberapa orang yang justru mati-matian ingin dipilih. Bahkan rela memaksa, melakukan hal yang sama sekali tidak wajar. Kalau Allah bilang KAMU TIDAK PANTAS DIPILIH mau apa? Siapa yang bisa protes atas ketentuan yang Ia buat. Kalau saja kita bisa introspeksi diri. Pantaskah kita menjadi salah satu dari beberapa hal yang patut dipilih? Atau justru kita adalah salah satu dari sekian banyak rumput liar yang hanya ingin numpang tumbuh saja?

Rekan... Allah selalu mengajarkan untuk memohon, bersujud agar kita sadar betapa rendahnya kita, betapa jauhnya jarak kita dengan ‘Arsy Allah. Jadi mana mungkin kita yang begitu rendah ini berani-beraninya mengambil hak yang hanya Allah yang patut mempunyainya? Tak sadarkah kita bahwa kita sedang menggadaikan iman kita hanya demi sebuah hal yang bukan kewajiban kita untuk melakukannya.


Ketika kita memilih, kita adalah tangan yang memegang mata pena yang siap menggores kertas. Kita adalah penentu. Tapi, bukan kita yang memiliki hak untuk menentukan. Sekalipun tangan tau apa yang harus dilakukannya, hati tetaplah eksekutor yang paling bijak. Dia lebih tahu tulisan apa yang harus dibuat oleh mata pena.


Saat posisi kita menajdi pilihan, ikhlas adalah hal terberat yang harus kita lakukan. Kita tidak tahu kemungkinan apa yang akan terjadi, tapi, kita tahu harus bersikap seperti apa kita ketika diri ini ditetapkan menjadi pilihan. Ikhlas ketika ditetapkan sebagai satu yang dipilih, ikhlas ketika dianggap BELUM SEKARANG, ikhlas ketika ternyata kita bukanlah orang yang diinginkan untuk hadir dihidup seseorang.


Ini bukan tentang PEMILIHAN UMUM... ini tentang hidup menjadi aktris yang baik.

Biarlah setiap peran berjalan atas arahan Dia yang Maha Menentukan Hidup. Kita bisa beriring doa dalam istikharah panjanng, mencoba mencari kisi-kisi tentang jalan yang seharusnya kita ambil. Apakah pantas diri ini dipilih, apakah pantas diri ini memutuskan sebuah pilihan, atau diri ini hanya pantas menjadi komentator di bangku penonton. Wallahu’alam bissawab...


"dan perhatikanlah, bunga yang kuncup akan segera mekar, cat yang berpendar akan segera tergantikan..." 


Indralaya 8 Juli 2014


Sunday, July 6, 2014

Dandelion itu pasti pulang



Bismillahirrahmanirrahim...
Rasanya aku begitu memaksakan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Seperti menganggapnya sebagai takdir hidupku padahal aku sama sekali tidak tahu jalan seperti apa yang akan aku hadapi nanti. 

Sekarang, aku sadar bahwa kelopak dandelion tetap harus pulang ke tanah, pemiliknya yang haqiqi. Sekalipun ia tumbuh dalam tangkai yang begitu kokoh. Sekalipun bagiku, ia adalah hak yang patut aku pertahankan. Apalah dayaku, jika segala ini telah dituliskanNya. Aku hanya sebatang kayu. Ya... aku harus ikhlas. 

Cukup. Aku sudah memilikinya dalam diriku. Sempat memilikinya lebih tepatnya. Sayangnya aku tidak belajar melepaskan. Aku hanya tahu bagaimana cara memeluknya erat-erat. Aku mengabaikan segala aspek yang seharusnya aku pelajari. Aku menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Otakku terlalu keras untuk menerimanya.

Dia....

Seseorang itu memang masih ingat, masih ingin bersama. Aku tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya, apa yang tengah difikirkannya. Keputusanku membiarkan segala hal berjalan semaunya sepertinya memang tepat. Duniaku begitu sempit sehingga rasanya sangat sulit bergerak kearah lain tanpa suaranya.

Harapan itu masih ada...

Setidaknya aku yakin bahwa setiap nyawa pasti akan pulang ke peraduannya. Setiap kelopak akan jatuh ke tanah. Setiap kapal akan bersandar di dermaga. Apa yang saat ini ku anggap tidak ada, bukan berarti benar-benar tidak akan pernah ada. Siapa yang saat ini tidak hadir mungkin belum datang saja. Atau tengah beristirahat di gubuk tepi jalan. Atau, bisa jadi yang saat ini aku jaga adalah memang dia yang ditakdirkan menjadi masa depanku. Aku hanya berusaha khuznuzhan. Aku tidak tahu apapun kecuali keyakinan ini.

Panggung pertunjukan telah usai. Dan sekarang, aku tengah menyaksikan tanganku bergemerincing di atas pentas bersama selendang merah yang menawan. Sendiri.

Aku tidak berharap apapun kecuali padang ini kelak akan ditumbuhi ribuan dandelion lagi... 

Thursday, April 24, 2014

Ini bukan mimpi, inilah Kerinduan

aku merasakan angin menyentuh tumitku
ujung gaunku
khimarku
pipiku
kedua alis mataku
ku dengar derit ayunan semakin pelan
dengan ilalang di tangan kiriku
dengan helaian dandelion terbang diantara angin pantai
disini, duniaku akan kubagi padamu
tanpa siapapun yang akan mengganggu
kudengar kau bercerita
tertawa
kau tuliskan sebuah huruf di pundak kiriku
aku tau itu A, inisial namaku
bahumu tak lebih empuk dari bantal dan kasurku
tanganmu tak lebih lembut dari air
tapi aku tau, kau sangat pandai menenangkanku
kau bernyanyi, dengan debur ombak sebagai nadanya
aku berpuisi, dengan kicau burung sebagai pengiringnya
di tempat ini, sungguh...
kau adalah milyaran alasan mengapa aku merindu
mengapa aku ingin
mengapa aku mau
mengapa aku berniat
mengapa aku tak ingin
mengapa aku menggenggam 
mengapa aku melepaskan
mengapa aku memeluk
mengapa aku menangis
dan tidak pernah ada alasan mengapa aku harus memilihmu, kecuali Tuhan
kau adalah kesempurnaan kedua setelah perkenalanku dengan Tuhan
dan hari ini...
kau menyempurnakan syukur dalam sujudku

Wednesday, April 23, 2014

Cinta-nya Bunda



Ini sabtu malam yang kata teman sebayaku waktunya kunjung pacar tapi, entah kenapa tidak ada sedikitpun ketertarikan untuk melakukan atau sekedar menerima tamu yang berkunjung di sabtu malam walau katanya silaturahim. Layar televisi di depanku rasanya lebih dari cukup. Terlebih suara lantuanan ayat Al-Quran yang adik dan bunda baca seperti senandung lagu yang tak aada habisnya. Kupejamkan mata ini sambil menikmati bacaan kedua orang istimewa ini.
Sejak setahun lalu, adikku berusaha menghafal Al-Quran dan ingin masuk pondok pesantren, sedang bunda, beliaulah malaikat dunia yang tak pernah habis mengingatkan untuk selalu baca Al-Quran, shalat Dhuha, Istikharah dan Tahajud.
“ coba ayah masih ada ya bun, pasti kalo baca surat Ar-Rahman bagus sekali” celetukku selesai bunda membaca Al-Quran
“ ayahmu itu nak, orang paling bisa membuat bunda tenang. Ngajinya bagus, adzannya bagus, tulisannya bagus... “bunda tidak melanjutkan. Bibirnya membentuk senyuman manis, persis remaja yang sedang dilanda cinta
“ tapi ayah dulu kan play boy bun, kata nenek aja pacarnya dulu banyak, sudah melamar bunda pun masih ngajak pacarnya jalan mlam mingguan. Kok bunda masih mau sih sama ayah? “ ku dekatkan dudukku ke arah bunda, ku ambil mushaf yang sedari tadi di pegangnya kemudian meletakkannya diatas meja
“ bunda juga ndak tau. Tapi waktu itu bunda yakin, kalo ayahmu itu jodoh bunda, pastilah dia tetap akan menikahi bunda. Setelah menikah ayahmu itu ndak nyeleweng kok, sayangnya malah kebangetan sama bunda “
“ tapi kan ayah itu keras kepala sekali bun? “ tatapku heran
“ karena mungkin bundamu ini bisa sabar makanya Allah kasih pasangan yang keras untuk menguji bunda. Tapi gitu-gitu ayahmu itu baik kok hatinya. Masa kamu nggak bisa ngrasa to nduk “
Ah, bunda benar. Aku baru sadar ahwa terkadang ujian itu bukan datang pada hal yang kita benci, melainkan pada diri seseorang yang teramat sangat kita cintai. Mencintai tak selalu perlu alasan, bukan? Malam ini aku memikirkan betapa cinta bunda semakin membuncah setiap harinya. Ayah bukan orang yang penyabar seperti bunda. Malah sifatnya jauh berkebalikan. Tapi, hingga ayah tiada pun rasanya wajah ayah tak hilang-hilang jua. Ini aku tahu setelah bunda mengaku bahwa ada lamaran seorang duda yang ia tolak.

Jatuh cinta itu sederhana dan tak pernah sakit, jika pada tempat dan orang yang tepat.

Sunday, November 3, 2013

Jika (nanti) Aku Punya Pacar

Bismillahirrahmanirrahim...
"aku suka hujan, dan entah mengapa aku ingin hari pertamaku denganmu ketika hujan, bertemu karena saling mengagumi Tuhan lewat Hujan, mengikat janji atas nama Tuhan ketika Hujan, dan mengakhiri hidup kita (atau aku dahulu) ketika hujan" ~ Anisa Ayumi

aku ingin punya pacar!
yang setia, yang tak mau putus, yang bisa mempertahankan seperti aku yang tidak mau untuk dilepaskan. aku ingin kamu ada, nyata, tidak terbalik atau maya, tidak ngambang atau nun jauh di alam abrah kadabrah sana. Jelas! aku rindu dengan waktu ketika (nanti) kita duduk berdua, makan berdua, mengatakan cinta di ujung senja, menghabiskan secangkir kopi dengan satu tangan saling berpegangan di tengah udara pantai yang mulai dingin, kemudian ku sandarkan kepala ku di bahu kirimu lalu kau bilang "ada apa sayang?". kau tau aku kan menjawab apa? | ye jelas aja kagak | "aku ingin merasakan cinta seperti saat ini, waktu seperti saat ini, suasana seperti saat ini, denganmu sampai hujan menutup usia kita berdua"

iya! aku ingin punya pacar!
seperti siapapun orang baik di dunia ini, yang bisa terima atas segala kekuranganku yg tak pernah ada batas akhirnya, yang bisa mengartikan air mata yang sering keluar dari kedua sumbernya, yang tidak pernah berkata ingin pergi walau aku meminta dia pergi, yang (nantinya) bisa menemani mata ini terbuka, sampai menutup lagi, yang menjadikan aku satu-satunya bidadari terindah dalam hidupnya, yang takut pada Tuhan hingga ia tak akan pernah melihat keindahan pada perempuan lain selain aku dan ibunya.

Tuhan, aku mau punya pacar, boleh?
aku ingin seperti orang lain yang bisa kemana-mana berdua, gandengan tangan, makan midnight di tepian pantai tanpa ada yg menggunjing "eh anak gadis sama laki2 kok jam segini masih keluyuran", jalan-jalan kemana aja dengan tempat tinggal dan atap yg sama. boleh kan ya aku punya pacar? boleh dooongg...

wahai Tuhanku...
Jika (nanti) aku diizinkan punya pacar,
aku mau kasih janji ini ke dia dan Pemiliknya...

~ Pacarku yang di ridhoi Allah, ketahuilah bahwa waktuku tak pernah terhitung untuk menunggumu datang, energiku tak pernah habis untuk sekedar menyambutmu di pelataran hidupku, mataku tak pernah jengah untuk menjemput binarmu menemuiku, dan tanganku tak akan sungkan untuk memelukmu ketika telah benar-benar di depan mataku. kau juga harus tahu, kau adalah pria tertampan yang berhasil membuatku menangis menyebutku, kau adalah pria tercerdas yang berhasil menguras seluruh perasaanku untuk ku dedikasikan seluruhnya untukmu. andai kau tau, sebelum kau datang aku adalah angsa liar yg tak tau yang mana pasangan dan yang mana yang boleh ku jadikan pacar, tapi ketika kau mendekat, Tuhan menutup segala aibku agar kau tak meletakkan ragu sedikitpun padaku, agar kau tak gemetar ketika menyematkan cincin di jari tanganku, agar kau tak melihat ke sisi lain selain mataku. pacarku yang saat ini (mungkin) tengah membaca tulisan ini,  ketahuilah bahwa setiap detak nadi ini nantinya akan berpahala denganmu, pacar dunia akhiratku, asal kau sabar atas segala kelakuanku. aku adalah wanita yg tak tegar sepetimu, yang tak kuat sepertimu, yang tak baik hati sepertimu, yang tidak bisa sepenuhnya mencintaimu seperti ibumu, yang penuh dengan kesalahan, yang tak bisa melakukan segala hal untukmu, tapi satu hal yang kau harus tau dan selalu kau ingat, AKU AKAN BERUSAHA SELALU DENGANMU~

Sincerely, me...
Yours :')

Sunday, September 8, 2013

Menjadi tua-lah bersamaku

Bismillahirrahmanirrahim…

Ah, malam ini aku merindumu lebih hebat dari biasanya. bukan karena ku yg semakin ingin menemuimu, aku memang sedang memikirkanmu, sedang apa dirimu, sedang dimana, adakah kau berpikir sama denganku? Aku tahu tak selamanya kita sepaham, aku menyadari satu hal bahwa hatimu, hatiku, saat ini adalah milik kita masing-masing hingga suatu hari nanti izinkan aku menggenggamnya erat-erat hingga tak kuizinkan satupun memilikinya selain aku.

Aku tahu, meski kini kau tak tahu aku tengah di belahan bumi sebelah mana, kau akan selalu berdoa untukku. Ingatlah bahwa aku tak akan rela lelaki lain menyentuhku barang sedetik, sayang. Aku akan berusaha sekuat tenaga agar dahagamu terlepas ketika pertama matamu dan kedua mataku saling menyampaikan milyaran rndu atas penantian panjang kita. Tetaplah rendah hati ya.

Dalam kesendirianku aku selalu meminta pada Allah untuk menjagamu sebaik mungkin, mengingatkanmu jika kau mulai lalai atas niatmu untuk segera datang, atau sekedar menjaga kesehatan lahir dan batinmu. Aku mohon, berusahalah menjadi lelaki yang kuat, yang mampu mengatasi apapun tanpa mengeluh. Berusahalah menjadi laki-laki yang tangguh, yang tak mudah jengah menghadapi cobaan. Tunggu ya, sebentar lagi akan ada wanita yang jauh dari sempurna yang akan menemanimu menghabiskan sisa usia. Yang akan menyeka keringatmu ketika lelah. Yang akan berbagi cerita sebelum tidur. Yang akan mengambilkan handuk dan menyiapkan air hangat ketika kau letih dari aktivitas dunia. Yang akan mengecup keningmu sebelum kau terlelap. Yakinlah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pendamping yang pantas kau pertahankan di hadapan Tuhan, Allah SWT.

Bersiaplah untuk menjadi tua bersamaku, sayang. Karena menjadi tua itu bukan pilihan, tapi dengan siapa kau menghabiskan usia adalah mutlak milikku seorang. Aku tidak ingin yang tidak berkepentingan mengganggumu diusia senja kita nanti.  Maaf jika aku terkesan egois atas hidupmu.  Aku hanya ingin memastikan kau akan baik-baik saja sampai kita sama-sama berjuang meregang maut berdua. Kemudian dipersatukan kembali dalan JannahNya. Aamiinn  

Air mata ini saksi bahwa malam ini rinduku tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Aku benar-benar ingin masa itu segera datang. Mengahabiskan kehidupan yang kita rencanakan, aku, kamu dan malaikat-malaikat kecil kita, hingga tua membawa kita pada takdir yg memaksa untuk mengenang masa indah penantian sekarang.

Aku masih menunggu disini, sayang…

Sincerely, yours :’)


Tuesday, September 3, 2013

Surat Untuk... :')

Assalaamu’alaikum wr wb…
Bismillahirrahmanirrahim, demi nama Allah yang di genggamanNya aku bernaung ribuan kesedihan dan penantian, aku ingin menyampaikan bulir-bulir rindu yang belum bisa tersampaikan padamu, pria tampan yang tengah disibukkan dengan ibadah.

Wahai Adam yang di Rahmati Allah, apa kabarmu, sayang? Saat ini aku belum melihatmu, belum bisa menemuimu tapi aku yakin, Nanti ketika waktuku dan waktumu untuk sendiri telah habis maka kau akan segera datang ke Ibuku, menawarku untuk ditukar dengan keberkahan yang sakral, bukan dengan rayuan gombal yang kemudian kembali aku menjadi tumbal.

Ribuan detik waktu telah ku habiskan untuk memanggilmu datang, sudahkah kau dengar? Pasti. Aku yakin Beliau Sang Maha Pelindung Rasa tidak mungkin membiarkan ku bicara sendiri padamu. Cukup lelah mencarimu dalam ribuan nama manusia di tengah titik bumi ini tapi percayalah, wahai lelaki hebat, aku tidak akan menyerah untuk duduk di tepi simpang ini, menunggumu datang dengan 7 tangkai bunga Lili kemudian mengajakku menghabiskan jalan lurus ini berdua.

Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu minta pada Yang Maha Menguasai Hati agar kau dijaga sebaik mungkin, agar kau diingatkan jika mulai lengah dengan jalan ini, agar lelahmu yang mulai terakumulasi segera berakhir dengan predikat “Halal”, agar segala letihmu ia hilangkan, agar kau dimampukan untuk berjalan terus, terus, sampai kakimu terakhir mengayun sendiri.

Duhai calonku yang sepasang matanya aku rindukan, aku tidak akan bilang seberapa hebat kalam itu terucap atau sehebat apa tumpukan perasaan gundah membumbung menggunung di antara rasa-rasa yang lain, yang pasti kau harus tahu bahwa gadis ini selalu menjaga dirinya untukmu, untuk mempersembahkan kado terindah untukmu, yang akan memberikan seluruh perasaan cintanya hanya untukmu, setelah terucap serah terima dengn lantang dari bibirmu.

Jangankan wujudmu, bentukmu, statusmu atau kedudukanmu sekarang, namamu saja aku belum tahu tapi yang pasti aku yakin dengan satu tanggal yang telah Ia tuliskan di buku KITA dengan sepasang nama  manusia yang dipertemukan atas dasar Cinta yang tidak biasa. Aku tidak sabar menanti saat-saat aku berani memandang matamu, menyentuh pipimu untuk pertama kali, memanggilmu dengan sebutan “suamiku”, atau mengecup keningmu menjelang tidur kemudian bilang “Demi nama Allah yang Maha baik, terimakasih karena kau telah dihadirkan dalam hidupku, bantu aku menjadi kado surga untukmu, aku akan menemanimu sesanggup aku mampu”

Aku tidak bisa merindukan apapun darimu karena kenyataannya aku belum pernah bertemu dengamu dengan waktu yang membuat kita sama-sama menyampaikan cinta lewat sepasang mata tapi percayalah, aku selalu merindukan saat-saat itu datang.

Wahai Jodoh yang soleh, jaga dirimu baik-baik ya. Segerakan untuk ku…


Sincerely, Yours

Thursday, March 14, 2013

#Munas (please wait me)

Ran...
apa jadinya jika salju yang terlanjur turun aku biarkan begitu saja, bagaimana jadinya jika tanah yang mulai menggunung aku tanduskan begitu saja, dan bagaimana jika hatiku diremukkan oleh sekelumit rasa kesal yang aku tidak punya kuasa atasnya?

Ran... aku mulai putus asa atas segala yang aku patokkan. rasanya saljunya mulai menjadi panas, gunungnya serasa lengser lagi. aku tidak pernah membayangkan bisa menyimpan rasa sayang, cinta, atau sejenisnya pada seseorang yang bahkan aku belum pernah menjabat tangannya. bagaimana mungkin cinta itu hadir sebagaimana mata yang sering bertautan padahal nyatanya tak sekedippun tersaksikan oleh kedua kelopak ini?

Ran...
aku bermimpi memeluk mereka satu-satu (lagi). rasanya mereka begitu dekat dengan hidupku, sangat rekat dengan nafasku. rasa rindunya bahkan lebih menggebu dari semua rasa-rasa yang pernah tinggal di qolbuku. apa ini namanya ukhuwah, Ran? ini yang sering disebut Robbitoh? ya... aku merasakannya, Ran. aku merasakan urat sarafku menegang ketika menyebut nama mereka satu persatu. aku merasakan setiap detak jantung yang perlahan mulai cepat saat kata #Munas itu diucap. aku kecil, Ran. sungguh kecil tanpa mereka.

Ran...
katakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja. hatiku akan baik-baik saja. perasaanku akan baik-baik saja. katakan bahwa aku bisa ke #Munas untuk mereka, Ran. katakan bahwa aku tidak akan melewatkan moment ini untuk memeluk mereka satu persatu. katakan, Ran... Katakn bahwa aku akan bertemu mereka segera.

aku sudah memutuskan untuk mencintai mereka apapun yang terjadi, Ran. APAPUN. tidur terbawa mimpi. bangun tersenyum. buka WA nangis. di Personal Message tambah deras. ini alasan satu-satunya aku berat untuk tidak ada di tengah mereka, Ran. aku berat untuk tidak memeluk mereka. aku berat untuk tidak menangis di depan mereka. aku berat untuk tidak bercerita sebelum tidur dengan mereka, aku berat untuk tidak mendengar tawa mereka. aku berat untuk tidak bertemu mereka, Ran.

Beri aku alasan kenapa aku harus setegar ini, Ran...

Monday, December 24, 2012

Proposal Untuk Direktur #1

Bismillahirrahmanirrahim...
assalamualaikum... *jawab dong* :D

namaku humaira. tapi biasa di panggil ara. anak kedua dari seorang ayah dan ibu berdarah jawa-palembang. usiaku 21 tahun. aku sangat menyukai dunia interaksi, terutama organisasi. hampir disetiap amanah yang diberikan, aku selalu menjabat sebagai sekretaris. wajar bila aku mulai mencintai hingga terasa mual dengan kata "proposal". but nevermind... aku suka. dan aku senang menjalaninya. mungkin mengirim proposal ke berbagai perusahaan adalah kerjaanku. sampai-sampai aku hafal dialog dan keinginan pihak perusahaan. paling banter sih ngasih "Platinum" haha *plakk* (itu mah udah maksimal)
Yuph.. bisa ditebak betapa jitunya strategi proposalku sampe bisa tembus ke tingkat paling fantastis itu. wajar bila aku selalu dipercaya untuk jadi "agen" pelobi para petinggi perusahaan dan mendesain proposal sedemikian rupa biar ada direktur atau manager tertarik dengan permintaan kami.
tapiiiii....
ada satu saat yang paling aku benci ketika aku diminta membuat proposal. tau apa? murabbi alias guru ngaji ku nyuruh buat proposal. bukan proposal biasa yang mau minta gold, silver atau platinum. proposal CV buat nyari jodoh bahasa gaul nya. hah? terus terang ini bukan kerjaan ku banget. aku malah hampir angkat tangan.
"kamu bisa lo ra. sampai kapan kamu mau ngurus proposal buat direktur disana-sini?"
"tapi ummi, ana merasa belum siap mengajukan diri. la wong biasanya buat proposal untuk ke direktur itu buat minta dana kok"
"alaahh.. itu alasan kamu saja nduk. kenapa nggak dicoba ngajuin proposal nikah ke direktur nya"
"hah? ummi ini apa apaan sih... ara kan baru mau sidang TA mi. nant aja ya"
"katanya mau nikah muda biar dapet eksekutif muda??"
"iya ummi, tapi tunggu lulus dulu"
"yang penting buat proposalnya dulu. masalah waktu biar ummi dan abi yang nentuin"
"ummi maksa banget.."
yah... begitulah ummiku, murabbiku tercinta yang pelan-pelan mulai tahu bahwa aku memang ingin nikah muda. sekarang aku sedang mencoba menulis proposal yang kata ummi biar dapet direktur itu. *amiinnn* itung-itung usaha. doa tanpa usaha=nothing. doa tanpa ikhtiar sama dengan bohong. tapi usaha tanpa doa itu sombong.

aku paling gak suka disuruh mendeskripsikan diri begini. ummiii kenapa nggak ummi saja yang buat. kan ummi juga tau bagaimana ara. hahhh...
oh iya, sebelumnya aku pernah menemui seorang eksekutif muda yang bilang begini "adek ini 20 tahun, mahasiswi tingkat atas, tapi masih mikirin proposal ke perusahaan. kapan ngirim proposal ke jodohnya?" what? ah si abang bikin pipiku merah saja. padalah saat itu aku sama sekali ga tau apa itu proposal jodoh. sampai akhirnya seminggu yang lalu ummi menjelaskan dan aku tercengang karena langsung cuss disuruh buat. begini nih yang paling ngeselin. coba nggak usah tanya sekalian. hadeehh ummi ummi.
eh, tapi ngomong-ngomong pas abang direktur itu bilang begitu aku agak deg-degan juga loh. gimana nggak. eksekutif muda, usianya baru 28 tahun (aku tahu dari kepo CV nya, hehe), cakep pula.. mudah-mudahan sih soleh. hihi rasanya mau bilang lamar aku dong abang... *ngimpi*

***
dua minggu kemudian aku dipanggil sidang. Alhamdulillah aku berhasil menyelesaikan S1 dalam waktu yang lumayan cepat. 3tahun 10 bulan. walaupun tidak cumlaude *bener ga tulisannya*. cumlaude ga cumlaude bagiku ga penting. yang penting cepet kelar dan menempuh hidup yang sebenarnya. pengennya sih kerja di kantoran yang berhubungan dengan proposal gitu. tapi malu sama gelar. Humaira, ST. alasannya sih jelas. aku suka sama dunia keproposalan dan tetekbengek nya. titik!. dan akhirnya aku juga berhasil menyelesaikan proposal jodoh yang temanya "proposal untuk direktur". sampe-sampe aku ditanya ummi "ini kenapa dikasih judul ra" aku jawab aja "kan biar jadi doa mi". terus ummi bilang "kalo ternyata jodohmu bukan direktur gimana?" *lemes* aku ga bisa jawab lagi. ummi terlanjur membuat hatiku hancur. *backsoudsuarasrigala*

Waiting for Continuous part...
see u.. :)

Tuesday, November 13, 2012

Perasaan Pesiar

Assalamualaikum...
Bismillahirrahmanirrahim...

wahai darah yang tidak pernah henti mengalir, wahai jantung tidak pernah berhenti berdegub, wahai ruh yang tidak pernah lalai dengan jasadnya, wahai hati yang tidak pernah berhenti merasai, wahai Rabbi Sang Pemilik diri...

terimakasih untuk udara yang masih bisa hamba rasakan, terimakasih untuk dunia masih sempat aku saksikan, terimakasih untuk masalah yang masih sempat kau selesaikan, terimakasih untuk sahabat yang masih setia mengiringi, terimakasih untuk jodoh yang masih Kau jaga entah diamana ia berada, terimakasih untuk ibu yang masih mencintaiku hingga tak sedikitpun rasa itu bergeser dari tempatnya, terimakasih untuk tanah yang masih bisa aku jadikan pijakan, terimakasih untuk telinga yang masih bisa menerima suara, terimakasih untuk tangan yang masih mampu menuliskan keindahanmu, terimakasih untuk imaginasi yang masih selalu Engkau bukakan untukku, terimakasih untuk otak yang masih bisa mengingat dengan sempurna, terimakasih untuk perasaan yang masih bisa merasakan sakit luar biasa...

Terimakasih Ya Rabbi izzati... terimakasih untuk hidup yang luar biasa ini...

Monday, November 12, 2012

Mari Sehat :D

Hubungan Sehat
Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamualaikum shalih[at]… apa kabar hari ini? mudah-mudahan Allah mudahkan setiap harinya untuk terus berbuat kebaikan, menebar senyum keikhlasan dan selalu mengingat bahwa disetiap detik adalah ujian dariNya, setiap nafas adalah dzikir sebagai bentuk kecintaan kita kepada Allah Swt, sebagai bentuk kasih sayang kita kepadaNya, sebagai bentuk bukti bahwa ada Allah disetiap helaian nafas kita…

*bahasannya mulai berat ini..*

Yup, mungkin udah ketebak ya, kali ini saya lagi ingin membahas tentang “Hubungan Sehat”. Sebenarnya saya pun masih belajar untuk mendalami dua kata itu. Tapi sekali lagi, kalau mau nunggu sampai kita bisa, mau kapan lagi kita berbagi kebaikan? Kalau bisa beriring kenapa harus menunggu?

Ada yang bilang pacaran itu media untuk saling memahami. Apa itu perlu? Saya pikir tidak. Rasulullah pernah pacaran? Nggak. Rasulullah pernah kenalan dulu baru menikah? Tidak. Rasulullah pernah menemui Perempuan nya baru mengajak menikah? Tidak. Jadi apa perlu pacaran? Nggak kan shalih[at]. Kalau memang pengen kenal, ajuin aja proposal ke Murabbi. InsyaAllah murabbi nya jauh lebih paham kok. Kalau tidak, jika kita ada kandidat, sampaikan pada wali, biar mereka yang menyeleksi. Simple kan?

Bagi saya, tidak ada hubungan yang lebih sehat selain menikah. Iya, hubungan yang diawali dengan serah terima antara orang tua dan calon suami dengan saksi paling mulia yaitu Allah Swt dan diaminkan oleh seluruh Malaikat Allah. AKAD NIKAH, IJAB QABUL. Dua hal yang saling mementingkan dan tidak mungkin dipisahkan. Menikah itu bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Ada yang bilang ke saya NiKah itu Nimbun berKah. Hehe memang bener sih kalau dipikir-pikir. Apa sih kerjaan yang nggak jadi berkah setelah menikah. Hampir nggak ada. Ngambilin minum untuk suami aja pahala. Nyiapin makan pahala. Beres-beres rumah pahala. Berias untuk suami pahala. Pergi ke pasar karena berniat masakin suami juga pahala. Apa kurangnya? Semua yang dulunya masih kayak neutron alias netral alias belum dapat pahala, berubah jadi berpahala semua.

Enak ya menikah… *dilempar pembaca* tapi jangan habis baca ini terus pada ngajuin proposal ke murabbbinya. Kasian tuh.. hehe tapi jangan buru-buru ya salih[at]. Karena segala sesuatu yang terburu-buru itu Syaitan. Pertimbangkan baik dan buruknya. Menikah penting, tapi mempersiapkan diri untuk menjemput jodoh itu juga penting. Jodoh itu cerminan diri kita. Tenang saja, jodoh bisa diubah kok. Tidak mungkin Allah membiarkan kita dapet jodoh “sakit” sementara kita udah “sehat”.
Saya bukan membenci orang yang pacaran, itu semua pilihan kok. Tapi alangkah baiknya kalau kata “ta’aruf” tidak disalah artikan ke bentuk “pacaran”…

Kalau mau curhat, saya juga pengen nikah muda loh salih[at]… hehe (ketahuan deh)

Udah ah, saya tutup laptop dulu. Makasih ya yang udah baca. Semoga cepet dapet jodoh.. amiinnn *ehh :D Wassalamualaikum salih[at]